Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo akan mengajukan permohonan izin kepada Gubernur Jawa Tengah, terkait rencana pengeprasan tebing hutan lindung. Pasalnya, bagian tepi sebelah kiri jalan dari arah Mlandi merupakan lahan curam. Sehingga untuk kepentingan pelebaran jalan perlu mengepras tanah yang dikelola Perhutani Kedu Utara.

“Terkait penggunaan lahan hutan lidung dalam proyek jalur alternatif Dieng ini, kami sudah izin ke Perhutani Kedu Utara dan sudah dijawab agar mengajukan ke gubernur,” ujar Kepala DPUPR Wonosobo, Widi Purwanto, saat melakukan monitoring proyek pembangunan Jalan Rakai Panangkaran menuju Dataran Tinggi Dieng di Desa Sembungan Kecamatan Kejajar, Wonosobo, kemarin.

Dikatakan, berdasarkan ketentuan, jika ingin menggunakan kawasan hutan lindung demi proyek pembangunan vital, seandainya luasan hutan lindung di bawah lima hektar, permohonan izin cukup kepada gubernur. “Berdasarkan hitungan kami, pembangunan jalur Sirangkel-Sembungan Dieng atau Jalan Rakai Panangkaran yang digunakan Pemkab Wonosobo tidak melebihi 5 hektare,” beber dia.

Pegeprasan tebing hutan lindung di area kewenangan Perhutani Kedu Utara memang sangat dibutuhkan mengingat bagian sisi lain merupakan daerah curam, sehingga sulit untuk dilakukan pelebaran. “Untuk kawasan hutan lindung di kawasan lereng Gunung Bismo Dieng yang ingin kami kepras, panjangnya sekitar 400 meter dan lebar yang kami butuhkan rata-rata dua meter,” tutur dia.

Pihaknya sangat berharap, dalam waktu dekat surat izin dari gubernur tidak terlambat, sehingga tidak menggangu proses pengerjaan jalan, karena memang proses pembangunan secara teknis tidak boleh putus. Pihaknya juga terus mendorong penyelesaian pembangunan jalur Rakai Panangkaran terus dimaksimalkan. “Untuk progress pembangunan terus kami pantau,” terangnya.

Hasil monitoring proyek pembangunan tahap dua, saat ini masuk minggu ketiga dan masih fokus pengerasan, pelebaran jalan dan pembuatan senderan. Namun pertengahan Desember 2018 pihaknya menargetkan proyek pembangunan bakal rampung dilakukan. “Alokasi pembangunan jalan ini sebesar Rp 16,448 miliar  bersumber dari dana alokasi khusus (DAK),” sebutnya.

Proyek pembangunan jalur alternatif Dieng melalui Mlandi-Sembungan tersebut, panjang ruas penanganan mencapai 4,804 kilometer dengan masa waktu pengerjaan 150 hari kalender. Secara teknis, proses pengerjaan tidak mengalami kendala yang berarti, hanya kondisi medan yang menanjak dan penuh tikungan memang dibutuhkan tingkat kehati-hatian dalam proses pengangkutan material dan penggunaan alat-alat berat.

“Posisi jalan memang menanjak dan banyak tikungan, tetapi secara umum tidak ada masalah, khusus tikungan memang disesuaikan pelebarannya berdasarkan kondisi lahan yang tersedia. Pembangunan jalan ini merupakan dukungan dari Pemkab Wonosobo membackup Kawasan Strategis Nasional (KSN) program pemerintah pusat,” pungkasnya.

 

Suara Merdeka, Thu, 30 Aug 2018

Your Message...Your name *...Your email *...Your website...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *